Kegiatan dimulai Tanggal 30 Oktober 2010
Indahnya dapat Berbagi dengan sesama... Silakan liat-liat,,,,ambil yang dapat kau Manfaatkan buat hidupmu,,,,,
Jumat, 26 November 2010
Minggu, 17 Oktober 2010
Berburu Ikan Belidak

Ikan Belidak
4,8 kg
Lebar 24 cm
Panjang 82 cm
Lokasi Rawa Pakak Desa Sekubang Sepauk
Ikan lopis, belida, atau pipih merupakan jenis ikan sungai yang tergolong dalam suku Notopteridae (ikan berpunggung pisau). Jenis ini dapat ditemui di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Semenanjung Malaya, meskipun sekarang sudah sulit ditangkap karena rusaknya mutu sungai dan penangkapan. Ikan ini merupakan bahan baku untuk sejenis kerupuk khas dari Palembang yang dikenal sebagai kemplang. Dulu lopis juga dipakai untuk pembuatan pempek namun sekarang diganti dengan tenggiri. Tampilannya yang unik juga membuatnya dipelihara di akuarium sebagai ikan hias.
Karena berpotensi ekonomi dan terancam punah, lembaga penelitian berusaha menyusun teknologi budidayanya. Hingga 2005, Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin, di Kalimantan Selatan telah mencoba membudidayakan, menangkarkan serta memperbanyak benih ikan belida.
Ikan pemangsa ikan kecil dan krustasea berukuran 1,5-7kg (dewasa), dengan ciri khas ikan berpunggung pisau: punggungnya meninggi sehingga bagian perut tampak lebar dan pipih. Lopis dicirikan melalui sirip duburnya yang menyambung dengan sirip ekor berawal tepat di belakang sirip perut yang dihubungkan dengan sisik-sisik kecil. Bentuk kepala dekat punggung cekung dan rahangnya semakin panjang sesuai dengan meningkatnya umur sampai jauh melampaui batas bagian belakang mata pada ikan yang sudah besar. Betina memiliki sirip perut relatif pendek dan tidak menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk bulat. Ketika birahi (matang gonad) bagian perut membesar dan kelamin memerah. Jantan memiliki sirip perut lebih panjang dan menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk tabung, ukuran lebih kecil daripada betina. Jika jantan siap pijah alat kelamin memerah dan mengeluarkan cairan putih (cairan sperma) jika ditekan/diurut.
Telur biasanya diletakkan di batang terendam pada kedalaman hingga 1m. Dalam rekayasa penangkaran, batang bambu atau papan dipakai sebagai tempat penempelan telur. Pemijahan dilakukan pada musim penghujan (di BBAT Agustus hingga Maret). Dalam sekali pemijahan, seekor betina rata-rata menghasilkan 288 butir telur, meskipun dapat menghasilkan hampir dua kali lipat dari jumlah itu. Derajat pembuahan berkisar 30-100 %. Derajat penetasan 72,2% dan sintasan (survival rate) larva adalah 64,2%. Larva menetas sekitar 72-120 jam (3-5 hari) pada suhu air 29-30 °C.
Larva bersifat kanibal sehingga perlu perlindungan. Benih berusia 3 hari sudah mulai dapat makan udang artemia. Benih berusia satu bulan sudah dapat dideder di akuarium, dan satu bulan kemudian siap dideder di kolam. Ikan dengan ukuran 15cm siap untuk pembesaran.
Belida lebih aktif pada malam hari, dan mulai respon terhadap makanan pada sore hari. Hewan ini menyukai bagian gelap dari sungai, biasanya hidup di lubuk di bawah pepohonan.
Kamis, 05 Agustus 2010
Kelahiran Austin Yuma Gabrilian



KELAHIRAN ANAK PERTAMA PASANGAN E.MARDONIUS,ST & TASIANA,SPd
Sintang, Pada hari Selasa, 01 Juni 2010 pukul. 01.37 wib lahir seorang bayi laki-laki mungil dengan panjang 58 cm dan berat 3 kg. Di sebuah klinik bersalin Bidan Florida Ida di Jalan Oevang Oeray Sintang. Proses kelahiran berjalan normal dan lancar.
E. Mardonius, ST atau yang biasa di sapa Well menceritakan, bahwa ia dan istrinya Tasiana,SPd pergi ke klinik pada pukul 21.15 wib karena tanda-tanda kelahiran semakin jelas. Namun dari hasil pemeriksaan, bidan mengatakan kemungkinan subuh lahirnya. Akhirnya pasangan ini menunggu, dan pada pukul 00.15 Wib proses kelahiran dengan bantuan bidan dilakukan..
Suara tangis bayi laki-laki memecahkan kesunyian malam, dan membangunkan 2 bayi laki-laki lain yang juga baru lahir di klinik.
Selamat berbahagia buat pasangan E. Mardonius, ST dan Tasiana,SPd
Austin---> Kekuasaan
Yuma---> Anak laki-laki pemimpin ( Indian )
Gabrilian----> Malaikat Gabriel & Brilian( smart )
Minggu, 23 Mei 2010
Hasil Pilkada Sintang 2010

Hasil Akhir perhitungan suara Pilkada Sintang di MJ Center :
1) 9.115 atau 4,06% untuk Yansen-Antonius
2) 98.557 atau 43,87% untuk Milton-Juan
3) 27.631 atau 12,30% untuk Abeng-Ajung
4) 89.352 atau 39,77% untuk Jarot-Kartiyus
Ketiga Pasangan calon menjadi pemenang di beberapa kecamatan,
MJ menang di 9 Kecamatan, JK menang di 4 kecamatan(Sintang, Dedai, Sui,Tebelian, Binjai)
AA menang di kecamatan Serawai,,,,
JK menang telak di kecamatan Sintang, selisih 17an ribu suara dari MJ,,,,
Kamis, 29 April 2010
Mengenal Ikan Semah

Well,,,,,

Ikan semah sekarang ini makin langka keberadaannya, mengingat ikan ini hidup di sungai yang berair jernih dan berbatu atau beriam,, ini berarti ikan semah hidup di hulu sungai yang jauh. Untuk Di kabupaten sintang ikan ini banyak di temui di daerah kecamatan Amabalau, di hulu sungai Melawi, Desa Kepala Jungai, atau Desa Jengkarang.
Masyarakat di Desa Kepala Jungai hanya menampung sementara ikan semah yang ditangkap selanjutnya di bawa ke ke kota Nanga Pinoh atu ke Kota Sintang jika ada pesanan. Untuk saat ini masyarakat mencoba membudidayakan ikan yg memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi,,,
Hal ini tentunya harus menjadi perhatian PEMDA Sintang,,,
Karena langkanya keberadaan ikan yang sangat enak untuk dikonsumsi, Harga ikan semah ini mencapai Rp. 200.000,00/kg
Selama ini informasi tentang ikan semah ( Tor Spp ato ada yg nyebut Labeobarbus Spp
Dari kawan di dinas perikanan cuma dapat informasi kalo di Indonesia hanya ada 4 Tor sp, yaitu:
1. Tor soro
2. Tor douronensis
3. Tor tambra
4. Tor tambroides
Memiliki nama lokal lumayan banyak: Kacra, Jurong, Semah, Empurau dll
Potensi Budidaya Ikan Semah
Revitalisasi perikanan hanya mengutamakan pertambakan udang, dan budidaya laut yaitu rumput laut dan ikan karang, padahal perikanan darat memiliki keunggulan dan keunikan tersendiri. Harusnya, pemerintah memberikan porsi yang seimbang antara keduanya.
Perikanan darat memiliki keunggulan dan keunikan dalam pengembangannya. Pertama, potensinya memiliki varitas/jenis yang bersifat endemik. Contohnya, ikan bilih (Mystacoleuseus padangensis) yang di dunia hanya terdapat danau Singkarak, Sumatera Barat, juga ikan jenis lawat (Leptobarbus hoevanii), baung (Mystus planices), belida (Chitala lopis), dan tangadak (Barbodes schwanenfeldi) di Danau Sentarum Kalimantan Barat dan sungai-sungai pulau Sumatera, nike-nike di Danau Tondano, Sulawesi Utara dan ikan gabus asli (Oxyeleotris heterodon) Danau Sentani di Papua.
Kedua, keberadaan ikan endemik menyatu dengan perilaku/pola hidup masyarakat lokal. Mereka menganggap ikan endemik menjadi bagian kebudayaan dan dikonsumsi secara turun-temurun. Maka mereka juga memiliki kearifan lokal dalam menjaga kelestariannya.
Ketiga, secara ekologis dan klimatologi ikan endemik memiliki habitat hidup dan berkembang biak yang khas. Amat tidak mungkin ikan bilih, Danau Singkarak dikembangbiakan di Danau Poso. Inilah sumber kekhasan sumber daya genetiknya.
Keempat, lahan budi daya perikanan darat yang mengandung jenis ikan endemik belum dimanfaatkan secara optimal. Baru beberapa daerah yang memberdayakan dan memberdayakannya dengan pariwisata misalnya Danau Tondano, Danau Singkarak, Danau Poso dan Danau Sentani. Kelima, jenis ikan endemik harganya mahal karena rasanya unik, khas dan langka sehingga menjadi trade mark tersendiri bagi daerah itu. Contohnya, ikan semah (Tor tambra, Tor dourounensis dan Tor tambroides, Labeobarbus douronensis) dari Sungai Kapuas harganya sampai Rp 250.000/kg.
Enam Problem
Otonomi daerah dalam aspek perikanan dan kelautan tidak hanya dimaknai sebatas kewenangan pengelolaan wilayah laut oleh pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Otonomi daerah juga harus dimaknai sebagai upaya mengelola dan mengembangkan perikanan darat utamanya ikan endemik yang terancam punah. Pemaknaan ini akan menciptakan kedaulatan pangan di tingkat lokalitas.
Berbagai problem mengancam keberlanjutan budidaya ikan endemik dan kelestariannya, yaitu pertama, ekspoitasi berlebihan. Contohnya, data tahun 1997 menyebutkan stok ikan Bilih mencapai 542,56 ton dan yang telah dieksploitasi sebesar 416,90 ton (77,84 persen). Ini menggambarkan sumberdaya ikan bilih sudah mengalami tangkap lebih.
Kedua, introduksi ikan lain yang bersifat predator dan kompetitor. Kasus introduksi ikan gabus toraja (Channa striata) di Danau Sentani, mengancam Ikan gabus asli Danau Sentani. Hal serupa juga terjadi di Danau Poso dan Malili di Sulawesi Tengah.
Ketiga, ancaman kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pertanian dan pembabatan hutan. Akibat kegiatan pertanian yang menggunakan pupuk anorganik, limpasannya masuk ke sungai dan danau, sehingga mencemari dan merusak habitat ikan endemik.
Hal serupa akan terjadi akibat pembabatan hutan di hulu sungai, tepi danau dan daerah tangkapan air. Penurunan populasi ikan endemik di sungai, danau maupun lubuk-lubuk di Kalimantan dan Sumatera bersumber dari aktivitas pertanian dan pembabatan hutan.
Keempat, proses sedimentasi yang disebabkan oleh limpasan lumpur dari aktivitas pertanian di tepi danau menyebabkan danau semakin dangkal. Juga, pembabatan hutan di hulu menyebabkan sungai mengalami pendangkalan. Otomatis proses sedimentasi yang semakin bertambah setiap tahunnya mengancam hilangnya habitat ikan endemik. Di Sungai Mahakam akibat sedimentasi sudah sulit mendapatkan ikan baung dan lais.
Kelima, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Kasus yang terjadi di Danau Sentarum, Kalimantan Barat, yakni adanya penggunaan bubu warin (alat tangkap berukuran mata jaring < 0,5 cm sejak tahun 2000) menyebabkan turunnya populasi ikan di daerah ini. Keenam, penyediaan pakan ikan budidaya mengancam kelestarian ikan endemik. Pengembangan budidaya keramba mengancam ikan endemik Danau Sentarum karena pakannya diambil dari ikan–ikan kecil di danau ini.
Delapan Kebijakan
Melindungi sumber genetik plasmah nutfah dan mengembangkan budidaya perikanan darat berbasis ikan endemik memerlukan kebijakan strategis. Pertama, mengembangkan riset pemuliaan genetik ikan endemik. Hasil riset ini akan melahirkan bank genetik ikan endemik Indonesia, sekaligus melindungi plasma nutfahnya.
Kedua, mengembangkan pusat pembudidayaan ikan air tawar endemik yang mampu menyediakan bibit/benih secara massal baik untuk budi daya sungai maupun danau atau situ. Pusat-pusat ini dibangun daerah-daerah yang memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri.
Ketiga, menerbitkan perangkat undang-undang sumberdaya genetik untuk menangkal pihak asing melakukan bio piracy terhadap komoditas endemik khas Indonesia. Hukum yang tersedia baru Keppres No. 43 Tahun 1978 yang menyatakan bahwa jenis ikan yang dilindungi di pulau Kalimantan dan Sumatera adalah arwana Super Red, Golden Red, Banjar Red, arwana Green (hijau) yang ditemukan di Taman Nasional Danau Sentarum dan Sungai Kapuas.
Keempat, melestarikan lingkungan kawasan perairan umum (daerah aliran sungai, danau, situ) dan tangkapan air yang mampu menjamin ketersediaan air tawar dan mencegah sedimentasi maupun pencemaran air. Prioritaskan bagi kawasan perairan umum yang sudah memiliki sumber daya ikan endemik dan terancam punah.
Kelima, mengembangkan alat tangkap yang ramah lingkungan dari segi jenis, ukuran, maupun variannya. Akan lebih baik menggunakan alat tangkap yang hanya menyeleksi ikan-ikan endemik yang masuk kategori layak konsumsi dan jual.
Keenam, menyeleksi introduksi ikan-ikan non-endemik yang bersifat predator, kompetitor dan pembawa penyakit yang nantinya mengancam kelangsungan hidup ikan endemik.
Ketujuh, menyeragamkan pangan berbasis ikan endemik, contohnya fillet, nugget, bakso ikan dan kerupuk ikan. Kedelapan, memberdayakan kelembagaan lokal dan kearifan masyarakat dalam membudidayakan ikan-ikan endemik.
Gagasan yang dipaparkan dalam tulisan ini merupakan langkah strategis dan politik untuk membangun paradigma baru dan merevitalisasi kebijakan budidaya perikanan yang selama ini cenderung mengabaikan perikanan darat.
Hal serupa berlaku juga bagi perairan umum lainnya yang sudah mengembangkan ikan air tawar berbasis waduk (Jatiluhur, Cirata), danau serta situ, demi pemenuhan pangan protein. Dengan demikian, bangsa ini akan berdaulat atas pangan yang bersumber dari ikan endemik, termasuk dalam penyediaan benih.
Kegiatan UPJJ Belum Maksimal
Sintang (kalimantan-news) - Kendati masih dalam musim penghujan, Unit Pemeliharaan Jalan dan Jembatan (UPJJ) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sintang, terus melaksanakan kegiatannya dibeberapa lokasi. Informasi tersebut diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PU Kabupaten Sintang, Drs. Askiman, MM kepada kalimantan-news, Selasa (30/03/2010).
Untuk sementara ini, lanjut Askiman, khusus untuk UPJJ Wilayah. I, masih konsentrasi di ruas jalan Senaning-Sungai Antu dan ruas Telaga Satu-Telaga Dua. Untuk UPJJ Wilayah. III, masih melakukan pemeliharaan di Kecamatan Tempunak bagian hulu.
Masih menurutnya, dimusim penghujan ini, ada beberapa kegiatan yang masih dapat dilakukan oleh UPJJ. Diantaranya, memperbaiki drainase, pelebaran Damaja, dan perbaikan lubang jalan. Sehingga, peralatan yang lebih berfungsi adalah unit hydraulic excavator.
“Setidaknya, diupayakan tidak ada badan jalan yang tergenang,” jelasnya.
Diakui oleh Askiman, bahwa kegiatan UPJJ dimusim hujan tidak akan dapat maksimal. Karena kondisi permukaan tanah asli, banyak dari jenis yang abrasif serta dari jenis yang tidak dapat dipadatkan. Terutama, pada permukaan jalan yang belum pernah dihampar lapis perkerasan.
Ketika ditanya mengenai kegiatan UPJJ Wilayah. II, yang bertanggung jawab terhadap ruas Poros Selatan (Serawai-Ambalau), Askiman kembali menerangkan bahwa kegiatan pemeliharaan Poros Selatan sudah diprogramkan. Bahkan ada tanda-tanda persetujuan, bahwa UPJJ Wilayah. II, di tahun 2010 ini akan menkonsentrasikan kegiatannya di Serawai-Ambalau, pungkasnya mengakhiri perbincangan.
Sementara itu diluar sana, masih banyak daerah pedalaman yang memerlukan kehadiran UPJJ. Keluhan terhadap buruknya infrastruktur pun, kerap diungkapkan melalui media masa lokal.
Tanpa peralatan yang lengkap dan tanpa perencanaan yang matang, mustahil UPJJ dapat membuktikan kontribusinya terhadap kebutuhan masyarakat: menuju membaiknya infrastruktur dasar. (PHS).